RSS

Seribu Pena Matahari

29 Oct

Kamu Kenal dengan Copernicus?
Oke, jika tidak kenal minimal ketika SMA kamu pernah belajar Fisika,
di Buku Seribu Pena Fisika yang cover kuning biru hijau, ada di ceritakan sejarah tentang Teori Heliosentris.
Jadi, Dulu pendeta sangat di takuti, apapun yang dikatakannya semua harus tunduk, termasuk untuk ketentuan sains yang sudah di dokrin.
Jadi, Copernicus menyatakan bahwa “Mataharilah yang di kelilingi oleh Planet-planet, membantah Teori Geosentris yang menyatakan bahwa Bumi yang di kelilingi oleh planet-planet termasuk matahari. Bumi sebagai pusat tata surya.
Siapa yang membantah maka akan mendapat hukuman, krn dianggap membangkang terhadap gereja. Begitu juga dengan Copernicus yang nasibnya harus berakhir di gantung dipenggal lehernya.
Hingga ratusan tahun kemudian, dunia sains membuktikan kebenaran dari teori Copernicus.
Begitulah kehidupan, acapkali bahwa sesuatu yang sebenarnya benar, tetapi dianggap salah. Setengah mampus kita menjelaskan sedetail2nya, tetap saja orang yang belum sampai ilmunya akan menganggap apa yang kita dan orang2 yang paham dan melihat jauh kedepan, selalu dianggap salah.
Percayalah, bisa jadi kebenaran akan suatu hal baru akan di akui dan justru menjadi pelita bagi generasi yang akan datang. Ibaratnya seseorang yang berpikir jauuuuuh dari orang-orang dizamannya. Bisa jadi, orang-orang yang memiliki kemampuan berfikirnya yang briliant & bijaksana, hanya segelintir dibandingkan dengan yang geblek kepalanya dan summum bukmu telinganya. Jadi, pemikiran yang bagus itu sering ditentang dan dianggap salah, karena pada dasarnya beda level dalam kapasitas otak & hati.
Sama halnya dengan kisah sebuah lukisan terbaik yang laku di lelang hingga milyaran rupiah, tapi pada masanya si pelukis justru meninggal mengenaskan karea tak punya uang untuk mengobati penyakit yang di deritanya. Pada masa itu, lukisannya dianggap tak bernilai tak berguna, tetapi sebenarnya orang2 pada masa itulah yang memiliki daya nilai seni yang rendah dan idiot dalam menilai suatu karya. Begitu juga dengan fenomena yang terjadi saat ini, mereka baru akan menyadari ketika semuanya benar2 sudah terlambat. Bukankah seperti gambar ttg memilih, banyak orang yang hanya ikut2an mengikuti arah panah yang difollow oleh banyak manusia tanpa tau alasan & tidak mau tahu mengapa harus memilih dan mengikuti orang-orang, tetapi jelas berbeda dengan orang yang tidak ikut2an tapi memilih pilihan yang berbeda meskipun hanya ia sendiri.

 
Leave a comment

Posted by on October 29, 2016 in sosial

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: