RSS

Bintang yang tergelincir jatuh

24 Nov

Inikah ujian lain yang harus ditanggung dari sebuah perjalanan? Tidak mendapatkan apa yang dicinta dan melupakan apa yang sesungguhnya menjadi pilihan. Getar istimewa itu hanya selalu akan tertuju pada dia yang tak memiliki ruang kecuali bagi hitam dan putih.

Semuanya baik baik saja? Entahlah,tapi tidak dengan hatiku. Kenyataan yang menyakitkan. Aku yang salah, membiarkan hati jatuh kepada sosok yang aku panggil kesatria bintang yang memiliki hati yang tulus seperti Matahari. Ada sesuatu yang tumbuh, simpati atau perasaan yang nyaman sebuah perasaan lain yang sulit dijelaskan. Terus saja tumbuh. Ajaibnya mampu menguapkan memori cerita cinta yang pernah mengisi hari hariku. Dia begitu istimewa dan berbeda.

Namun, ada sesuatu yang berbeda yang terbaca, suatu perubahan yang mencolok namun sukar dijelaskan. Dan aku tidak pernah salah dengan firasat. Seperti benang kusut. Hidup yang bukan dinegeri dongeng membuatku sangat mengandalkan akal sehat. Tapi, takdir waktu menggoreskan takdir yang tidak bisa dikendalikan.

Masih terngiang petuah sahabatku, “ketika seseorang ang begitu dekat dengan hatimu, menghiasi hari harimu dengan warna warni indah, namun suatu ketika tiba tiba ia menjadi berubau dan berbeda. Jika 3 hari bahkan lebih ia tidak pernah lagi berkomunikasi denganmu seperti yang biasa ia lakukan, dan ia nyaman tanpa merasa bersalah. Kebohongan yang disengaja disembunyikan juga makin bertambah. Itu artinya, telah ada orang lain disisinya. Hari ini, aku melihat untuk kesekian kali. Bahwa selama ini aku tidak lebih hanya menjadi sosok pemeran figuran.

3 initial huruf lebih dari cukup buatku untuk sadar diri. Aku sangat tahu pemilik nama itu, termasuk nama putrinya yg semakin lengket denganmu bukan?

Aku telah lama mengetahuinya. Bahkan harusnya sejak dulu aku memilih pergi, daripada berharap kepada sesuatu yang sementara kehadirannya, lebih baik memilih untuk tidak pernah dihadiri samasekai olehmu. Biarkan aku tertatih tatih mengobati lara hati oleh pengkhianatan seseorang dari masa lalu.

Dipenghujung malam ini, aku menyadari bahwa tahu persis hanya menjadisosok bayangan untuk jejak masa lalumu yang bel usai.

Tidak ada yang perlu diceritakan lagi, karena apa yang diceritakan mata lebih terang dari apa yang diucapkan mulut.

Dear Bintang Selatan! Mengapa gemintan begitu muram? Karena langit telah memberi tahu sesuatu. Seperti gemuruh dihati

Hanya saja bagaimana aku harus merayu awan. Awan janganlah menangis, Aku berjanji esok akan aku terbangkan layang layang. Semoga langit akan menjadi biru, meski sepertinya sulit. Sama sulitnya untuk menghentikan embun yg terus menggantung dipelupuk mataku. Menyusuri jalinan memori yang tumpang tindih seperti benang kusut. Merasa hatiku bagai diperas, dipelintir 360 derajat. Rasanya sakit sekali. Resiko dari perjalanan hati.

Ada saatnya dalam hidup, ingim sendiri bersama angin menceritakan seluruh rahasia lalu meneteskan airmata. Menjernihkan kabut yang menghalangi nalar. Melukis nuansa perih tak berperi lewat tulisan. Disetiap detik, dikala kenyataan mulai bersinggungan, kurasakan sakit yang nyaris tak tertahankan meski aku menyadari semua perjalanan hidup adalah sinema. Untuk sebuah perasaan cinta yang tidak kuasa aku cegah hadir namun tak pernah tersampaikan padamu. Ada 86.400 detik dalam setiap hari yang kita lewati. Dan dalam hitungan hari kamu mendominasi ruang pikiran, seolah ada antena yang tumbuh dikepalaku, khusus untuk mendeteksi frekuensimu. Akan tetapi, sinyal sinyal itu tak pernah tertangkap oleh radarmu.

Perasaan yang aku pendam dalam hati.Hanya dirasakan tidak berani disampaikan. Tidak ada rumusnya, bahkan kalkulator yang memiliki aplikasi rumus fisika dan matematika paling canggih sekalipun tak mampu menjelaskan dan menguraikan bagaimana seseorang bisa jatuh hati, entah bagaimana hati persisnya memilih hatimu. Tidak mungkin aku menyalahkan awan yang sesuka hati menjatuhkan rasa cinta yang ditujukan kepadamu.

Hati perempuan itu laut dalam rahasia. Ada harap dihatiku meski tahu mungkin akan sia-sia. Ada kehampaan yang begitu dalam dan kesedihan yang teramat pekat. Seperti mendaki gunung mengejar pelangi. Ketika embun jatuh baru tersadar yang aku buru hanyalah fatamorgana cinta.

Aku tidak lebih seperti merindukan Matahari yang sejogyanya selalu berbagi kehangatan yang tulus keberbagai penjuru belahan bumi. Pada kenyataannya aku keliru, bukan aku hati yang engkau pilih.

***** ******

The Sadness Of Nana Oshin

 

Koetaradja, 25 November 2015

Nana Kheisya Cicio

 

 
Leave a comment

Posted by on November 24, 2015 in Cerita Cinta, Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: