RSS

Viro, Live the Moments

31 Jul

Aku, Perjalanan dan Air

oleh: Ratna Sari

Sungguh setelah kesulitan ada dua kemudahan

Suatu hari, Aku pernah memasukkan lembaran tisu yang aku pilin kemudian aku masukkan kedalam botol pemutih wajah. Botolnya kecil dan loncong, saking banyaknya aku memasukkan tissue sehingga aku kesulitan mengeluarkannya. Aku mengetok dan memukul dengan paksa botol tersebut, tak ada hasil. Lalu, aku pun memasukkan beberap tetes air kedalamnya. Apa yang terjadi? Aku kembali mengulang perlakuan yang sama memukul kembali botol tersebut, tapi bedanya setelah aku beri beberapa tetes air, ada sebentuk tissue yang berbeda keluar dari botol tersebut. Aku pun mengambil pesan moral dari kejadian iseng tersebut, bahwa acapkali hal yang kita anggap menyakitkan, terluka, adalah hal yang paling tidak adil di dunia ini, tapi kadang aku sering lupa, bahwa justru itulah jalan untuk mengeluarkan potensi dan rahasia yang tersembunyi. Tisu yang berantakan ketika di mampatkan dengan berbagai tekanan, pukulan, tonjokan yang menyiksa, dengan berbekal kelembutan (air) justru menghasilkan sebuah bentuk yang indah, seandainya botol tersebut tidak di tempa, selamanya ia tak akan pernah mengeluarkan sesuatu yang “ajaib”. Trus apa hubungannya dengan cerita yang akan aku uraikan? Yuks, di baca sampai habis ya tulisanku. Uhmm memang sangat panjang halamannya, tapi di baca sampai habis ya karena semuanya saling berhubungan. Nah, sebaiknya kamu ingat betul percakapanku tersebut, karena perannya sangat penting dalam cerita ini.

Apa yang terbersit di pikiran dan rasa yang terpatri di hati ketika melihat pengumuman yang di tempel di dinding madding sekolah, pengumuman kelulusan di sekolah unggul, nilai yang di tempel di kertas yang kemudian di tancapkan dengan selotip di dinding, lantas ketika hati kedap-kedip tak karuan membuka pengumuman kelulusan SNMPTN di Koran, mengantri melihat nilai ujian Final, ataupun lembaran kertas panjang yang berisi nama-nama yang akan mendapatkan hadiah dari undian dari bank?. Aku percaya dan yakin sekali bahwa kita punya jawaban yang sama, berharap agar nama kita lah yang di pilih, tertera berada di posisi paling atas untuk nilai tertinggi, nama yang tertulis lulus di deretan para calon mahasiswa lainnya di Universitas pilihan, dan menjadi nama yang terpilih ketika undian di tarik untuk hadiah paling mewah. Aku bahkan acapkali komat-kamit membaca surat-surat kecil, bahkan seandainya aku rajin melakukannya seperti pada saat menunggu pengumaman, Aku berani jamin juz di penghujung surat di Al-Quran khatam aku hafal, hanya saja aku terlalu banyak mengidap penyakit malas. Eits, tunggu dulu tujuannya cuma 1, yaitu agar namaku yang terpilih.

Pertanyaannya adalah ketika hal diatas di balik, mengapa Aku justru protes, ngambek dan merajuk pada Tuhan, ketika justru namaku yang di pilih untuk menghadapi hal-hal yang bertemakan sedih, duka, dan lara, malah dengan muka cemberut protes pada Tuhan, mengapa harus Aku bukan yang lain?

Jadi begini ceritanya, Aku tak tahu mengapa jalan cerita hidupku selalu bermasalah dengan Air, bahkan dalam kurun 2 tahun ini status di face book ku selalu berisikan curhat penuh derita tentang air. Saking frustasi dengan Air, Aku malah sampai pindah rumah berharap sial berhenti menaungiku hehe.
Ceritanya, aku tinggal di rumah kontrakan kayak rumah kopel, jadi satu deretan terdiri dari 4 rumah kopel, nah untuk kebutuhan air bersih ke 4 rumah tersebut hanya di hubungkan oleh satu sumur dan satu pompa air yang di tempatkan di rumah paling ujung di deretan rumah nomor 4. Meskipun airnya bersih jernih tapi hanya dapat di gunakan sebagai air untuk keperluan mandi dan mencuci piring dan baju saja, sedangkan untuk di konsumsi biasanya membeli air galon isi ulang.
Semuanya berjalan dengan sempurna hingga akhirnya berakhir kelabu. Tepatnya 2 tahun yang lalu, entah mengapa saluran air ke rumah urutan nomor satu menjadi macet, awalnya aku tidak tahu. Jadi, sambil bersabar ria aku pun mengangkat air dari sumur yang berjarak 20 meter dari rumah. Di hari ke 7, aku mulai curiga karena kenapa hanya aku saja yang bolak-balik mengangkut air sedangkan ke 3 rumah yang lain justru santai-santai saja. Biasanya pernah ada kejadian pompa air rusak, jadi rame-rame terpaksa melakukan ritual mengangkut air jadi kenapa sekarang justru hanya aku?. Bisa di bayangkan dunia tanpa Air, mau mandi aja susah, belum lagi harus mandi pake air gallon dari pada tercium bau tak sedap di di ruang kuliah, bahkan adikku yang cowok memilih untuk mandi di tempat mandi kampus, bahkan acap kali pasang muka tebal, pagi-pagi bertandang ke musalla kampus agar bisa mandi sepuasnya di kamar mandi musala.

Aku pun menghubungi yang punya rumah sewa, agar mau menolongku memperbaiki dan mencari tahu apa yang tak beres, hanya saja seperti kebanyakan pemilik rumah sewa yang lain, ia pun lepas tangan tak kunjung datang untuk memberi solusi. Hingga hal aneh terjadi pada pukul 2 dini hari, sempet shock juga saat mendengar ada suara air yang keluar dari kran di bak mandi. Sempet mikir juga apakah itu hantu? Lagian siapa pula yang nekat jam segitu mau menghidupkan mesin air yang berada di luar rumah, karena tidak berani keluar dari kamar baru keesokan harinya tahu penyebab dari kejadian dini hari. Ternyata entah karena faktor mesin yang udah terlalu tua atau faktor apalah, ketika mesin air di hidupkan otomatis semua rumah membuka kran di bak mandi, Alhasil aliran air ke rumah paling ujung dari mesin air akan menjadi tersendat bahkan macet tak mau mengeluarkan air sama sekali.
Setiap persoalan pasti ada jalan keluarnya, hanya saja kadang kerap emosi cenderung mengalahkan kesabaran hati. Ada kalanya ketika tetangga mengalami kesulitan, seperti yang terjadi pada rumah nomor 2 dan 3 yang mengalami WC tersumbat, bahkan bak di kamar mandinya bocor yang menyebabkan air kotoran tersebut merembes ke rumah melalui celah dinding, karena sedang liburan lebaran aku tak berada di rumah, tepat setelah beberapa minggu aku baru sadar takkala kebingungan melihat dua kardus besar tempat aku meletakkan baju-baju kotor mendadak menjadi basah, awalnya aku mengira hanya faktor rembesan air hujan, tapi keesokan harinya aku melihat semakin banyak air yang mengalir ke rumahku. Nasi sudah menjadi bubur, terlambat sudah baju-bajuku tak ada yang bisa diselamatkan.
Penderitaan belum berakhir, karena kedua rumah tersebut toiletnya tersumbat lantas tanpa meminta persetujuanku, mereka pun memanggil tukang sedot WC, kesal juga sih, karena toilet di kamar mandiku baik-baik saja, tak bermasalah tapi ketika sedot WC justru semua sumur pembuangan di sedot. Alhasil biayanya juga semakin mahal dan mau tidak mau aku pun kena jatah untuk membayar.
Jelas aku merasa marah, disaat aku kesulitan tak ada yang mau membantu. Padahal bisa saja aku melakukan hal yang sama mengganti mesin dan meminta ke 3 rumah lainnya untuk ikut membayar, tapi hal tersebut tidak aku lakukan.

Hanya beberapa bulan saja air kembali lancar mengalir,meskipun aku sering mengatakan air kran yang keluar persis kayak anak kecil pipis. Tapi aku masih bersyukur minimal tak bersusah payah mengangkat air, belum lagi untuk biaya laundry. Semuanya tak berlangsung lama, air kembali macet. Parahnya lagi keluarga besar menelponku dan mengatakan ada keperluan mendadak dan meminta agar aku mengizinkan mereka menginap beberapa hari dirumah. Bisa di bayangkan bagaimana cenat-cenut kepalaku, di satu sisi aku protes, bagaimana mungkin mereka akan tinggal di rumahku sedangkan air sangat susah keluar. Jangankan untuk mandi, untuk keperluan BAB saja aku mesti hemat, untuk berwudhu saja membuatku semakin rajin mengunjungi masjid atau berlagak makan di restoran fastfood menunggu jatah promos paket murah lantas berlama-lama di restoran tersebut demi menunggu waktu shalat dann wudhu di sana, meski tatapan masam dari pelayang kadang mulai menyapa.

Hati siapa yang ga akan perih ketika keluarga besar bertandang kerumah, membawa pamanku yang sakit parah, namun di tengah malam buta mereka memutuskan singgah di masjid raya Baiturahman Banda Aceh, menunggu waktu pagi agar tak merepotkanku. Tahu betul bahwa aku krisis air di rumah, lantas mereka memilih shalat di masjid sambil menghitung waktu menanti pihak masjid yang menyediakan fasilitas air mandi berbayar. Biasanya para wisatawan atau orang-orang yang baru tiba di Banda Aceh menggunakan fasilitas tersebut. Tidak bisa aku bayangkan kala memikirkan udara dingin pada dini hari beralaskan lantai masjid, mereka sangat bersabar agar tak merepotkanku. Aku pun bolak-balik mengetuk pintu setiap rumah tetangga di deretan 3 rumah kopel, berharap agar ada yang mau berbaik hati mau menutup kran di bak mandi mereka, paling tidak diantara ke 3 rumah tersebut minimal ada 1 rumah yang mau menutup kran air, agar mempemudah aliran air kerumahku. Hal tersebut telah aku lakukan selama hampir setahun, sambilan mencari rumah sewa baru. Putus asa berharap pada pemilik rumah yang sama sekali tak mau peduli.

Kadang Aku berdiri dan menatap sebuah bingkai besar berisikan tulisan Ayat Kursi dan lafazd Allah. Luruh lututku menekuk kelantai, mempertanyakan “Mengapa Tuhan tega kepadaku? Bukankah Allah adalah zat yang maha menepati janji. Lalu mengapa di saat aku berniat menolong pihak keluarga yang sedang di timpa lara, bukankah itu bagian dari berbuat baik. Tapi mengapa justru Tuhan mempersulit hidupku?”

Pernah aku berada di puncak kemarahan, karena setiap aku berusaha dan berhasil keluar dari masalah, Tuhan selalu punya skenario paling jitu untuk memporak-poranda hatiku. Bahkan aku tak meminta banyak, aku hanya ingin di beri waktu 30 menit saja agar bisa bernafas lega, tapi selalu saja doa itu terasa sia-sia.
Aku pun mulai mempertanyakan, kalimat dari ayat ini “Sungguh setelah kesulitan ada dua kemudahan” (QS. Al-Insyirah:5. Aku pun menggugat kapan ya Allah?.
Aku bahkan semakin tak berdaya, tapi asa yang terpatri di hati bahwa sungguh pelangi itu akan hadir setelah hujan reda.
Skenario Tuhan semakin seru, kala ada tetangga baru yang terdiri dari para ABG, yang baru menempati (pindah rumah) tepat di depan rumahku berbuat ulah, aksi brutal dan tingkah mereka membuat para masyarakat & tetua di tempat aku tinggal menjadi gerah. Tapi, setelah mendapat beberapa kali teguran, namun sama sekali tak membuat mereka jera. Hal itulah yang akhirnya membuat tetua tokoh masyarakat disitu membuat peraturan bahwa area komplek rumah yang sudah 5 tahun aku tepati tersebut hanya boleh di tepati oleh perempuan saja, sedangkan rumah yang di tepati oleh keluarga yang ada adik atau abang laki-laki di harapkan untuk pindah. Kelak aku baru mengetahui bahwa itu hanyalah ulah dari 2 tetangga depan rumah yang mengincar rumah kami, itu hanyalah siasat mereka untuk memanfaatkan keadaan. Kontan saja aku dan rumah di deretan depan menjadi sedih, mengapa sungguh tak adil, yang berbuat salah tetangga baru tapi yang kena getah justru yang tak bersalah. Mau tidak mau kami harus memilih pergi.

Masalah datang seolah tak kenal belah kasihan, puncaknya, ketika Juni 2012 yang lalu Banda Aceh di landa angin badai yang teramat kencang. Kali ini, air di bak mandi sama sekali tidak menyisakan air. Di tambah lagi listrik padam selama seminggu berturut-turut.
Di saat yang sama aku menerima telpon bahwa Cek Asma, adik Ibuku akan singgah & menginap di rumahku, sebelum tinggal di asrama untuk mengikuti diklat sertifikasi. Aku sudah pasrah, tak mau lagi protes kepada takdir dan nasib. Aku berusaha iklas saja, intropeksi diri, menyempatkan diri mendengar ceramah, memperbanyak sedekah. Meskipun aku suka uring-uringan, tapi biasanya di menit ke 25 setelah aku marah, biasanya aku suka jalan-jalan keluar rumah. Menelusuri sepanjang ruas jalan, karena biasanya akan ada banyak hal yang mampu melegakan hati, melihat ada banyak orang yang berada dalam kesempitan, jauh lebih berat hidup mereka jika di bandingkan denganku yang hanya bermasalah dengan air.

Ada tukang perbaiki kubah masjid yang menggelantung tanpa alat safety, padahal nyawa taruhannya, buruh galian parit yang menggali parit-parit penuh lumpur hitam dan kotor di tengah terik matahari dan debu yang berterbangan, belum lagi buruh galian kabel yang bekerja penuh dengan kehidupan yang keras, bahkan hatiku teriris melihat seorang pemuda yang dari guratan uratnya dapat terbaca betapa beratnya perjuangan untuk bertahan hidup, saat itu aku melihat Ia menarik tali kabel yang sangat berat dan panjang di sepanjang jalan jembatan sungai Lamnyong menuruni jalan menanjak. Tuhan tak memilih aku untuk menjalani pilihan tersebut, lantas mengapa aku tak mau sedikit saja bersyukur.

Aku sudah iklas, dan mulai menata hati, tapi ternyata Allah masih ingin menguji kesabaranku. Selang 5 hari setelah kedatangan Bibiku, Ayahku pun mengabari bahwa akan mengikuti diklat pelatihan tenaga pendidikan. Aku hanya bisa terkulai lemas, kehilangan kata-kata. Bagaimana tidak rapuh seluruh tulang, di tengah puncak badai yang terjadi di bulan Juni, malam hari pula. Ayah dan temannya sedang berada di seulawah, area paling berbahaya dalam perjalanan menuju Banda Aceh, di tambah dengan derasnya guyuran hujan. Aku teramat bingung, tasbih pun tak henti-hentinya aku lantunkan.

Lantas permasalahan lain pun muncul, dengan kondisi yang sangat mengerikan seperti itu, tak mungkin Ayah melanjutkan perjalanan ketempat asrama diklat di desa Neuhun, setibanya di Banda Aceh. Perjalanan kesana juga penuh resiko, apalagi usia mereka juga sudah 56 tahun. Tapi, masalahnya adalah di rumah tak ada air sama sekali, aku hanya memiliki setengah ember persediaan air hasil menampung air hujan, di tambah lagi padamnya listrik, kondisi rumah yang penuh dengan kardus & kotak-kotak berisi barang pindahan, semuanya berantakan.
Dengan kondisi seperti ini, di liputi kecemasan akan keselamatan orang tua, di sisi lain sejak kasus tetangga baru, setiap ada lelaki yang bertandang kerumah akan dianggap membawa lelaki non muhrim kerumah. Fenomena ini sungguh membuatku hamper putus asa. Terbersit niat meminta ayahku menginap di hotel, tapi itu sungguh take tis, biaya hotel tidaklah murah.

Tepat disaat gemuruh hujan yang sama persis dengan kondisi hatiku, di saat itulah Tuhan membuktikan bahwa sungguh janji Allah adalah benar, bahwa Allah adalah zat yang maha menepati janji. Om Jafar, suaminya adik ibuku mengabarkan bahwa Ia telah mendapatkan rumah sewa di Prada, hanya saja baru membayar uang muka. Dari situlah ideku pun muncul, Prada termasuk Area yang tidak full mati lampu, jadi ada kemungkinan di bak mandi terisi air. Aku pun mengolah cara meminta kebaikan hati agar di izinkan di tempati oleh ayah dan temannya. Alhamdulillah pemilik rumah sewa ini mulia hatinya mengizinkan rumah tersebut di tepati meski belum lunas semua pembayaran rumah, dan yang membahagiakan rumah tersebut juga bersih. Aku langsung mengabari adikku yang sedang ketempat ayahku menunggu di masjid raya untuk menjadi penunjuk jalan, di tengah hempasan angina badai yang teramat kencang ia pun menerobos derasnya hujan. Aku sungguh berterimakasih atas pengorbanan adikku, bahkan sampai sekarang aku masih bisa melihat jelas perjuangannya membawa kasur yang diikat di bagian belakang motor, di tengah gelap gulita dan goyangan pohon di sekeliling akibat badai.
***
Ada apa dengan air? Mengapa lagi-lagi aku bermasalah dengan air, intinya lagi-lagi aku harus merogoh dompetku untuk permasalahan ini, bahkan disaat aku tak memiliki sumber penghasilan sama sekali di bulan ini. Di bulan puasa lagi, bonus terik matahari, sedangkan air jangankan untuk berwudhu untuk cuci muka saja tak ada. Sekali lagi aku pun meng update status FB ku bertema air.

Aku hampir putus asa, apakah ini kutukan air? Hingga selalu menghimpitku kemana saja aku pergi.
Bahkan aku pun hampir saja mengirim pertanyaan melalui email kepada seorang ustad, mempertanyakan mengapa saran dan anjurannya untuk bersedekah agar mengurangi kesempitan hidup bonus lagi surat Al-Waqiah setiap pagi dan sore, sama sekali tidak berfungsi? Padahal di setiap ceramahnya ada testimony dan pengakuan dari santrinya yang mudah aja menjalani hidup karena mengaplikasikan hal tersebut? Serius lho Aku hampir saja mengirimkan email kepada beliau.
Setelah sahur berakhir, Aku berguman. “Ya Allah, hamba ga punya uang, jangalah Engkau berikan masalah terus menerus. Dalam beberapa bulan ini banyak sekali terkuras isi dompet, di tambah lagi mesin air yang rusak. Berarti harus membeli mesin air lagi ya Allah. Pekerjaan juga ga punya, lantas dari mana saya harus mengambil uang?
Pukul 10 pagi datang si tukang perbaiki mesin, seperti dugaanku memang harus menggantikan mesin air. Aku pun pasrah, siap-siap akan mengambil tabungan di bank. Selang beberapa jam kemudian mesin sudah selesai di ganti dan bruuuuummmmm air pun lancer keluar dari krannya. Syukur tak terkira, lantas pada saat Aku menanyakan berapa harganya, si Nenek pemilik rumah pun bilang, 400 ribu ongkos 50 ribu karena bulan puasa. Lantas aku bilang, Nek! Boleh saya bayar separuh dulu? Nanti saya ambilkan uang di bank. Pada saat itu aku tak terlalu paham apa yang Nenek ucapkan, yang jelas dia bilang ga bisa ga bisa, ini harus kamu yang bayar, Aku juga bingung campur sebel, nyesel deh kemarin aku kasih oleh-oleh untuk dia, trus aku hampiri dia sambil duduk disampingnya yang sedang membereskan mesin air yang baru. Trus Aku terkejut dengan ucapannya, Beliau bilang Nana ganti Pipanya aja ya, mesinnya biar nenek saja yang tanggung, karena kalau kamu yang bayar nanti kalau pindah mesinnya akan kamu ambil. Aku pun mengulangi untuk memastikan pendengarannku, apa aku tidak salah dengar mengapa peryataannya berubah secepat itu hanya dalam hitungan menit? Ternyata aku tak salah dengar. Terimakasih ya Allah.


Uhmm, oiya kalian pasti akan bertanya apa hubungannya dengan kalimat pembuka di awal cerita? Baiklah, jadi setelah mesin selesai di pasang dan air di hidupkan, dari situlah aku mengetahui sebuah hal, bahwa biasanya pada saat menghidupkan air, ada 2 pilihan air sumur atau air PDAM. Nah, selama 1 bulan aku tinggal di rumah baru ini, aku sama sekali tak pernah bisa merasakan air bersih yang bisa di konsumsi, karena menggunakan air sumur. Apalagi setelah Tsunami kondisi air juga jadi kurang bagus, karena sudah terkontaminasi dengan mineral lainnya. Mesin tua yang sudah sering rusak tersebut adalah penghambat mengapa selama ini, air PDAM tersebut macet dan tidak mau mengalir, kami beranggapan bahwa alirannya tersendat karena hal lain, salah satunya harus di hidupkan pada jam 2 pagi agar air yang mengalir lancar. Tapi yang membuatku heran di rumah yang empu sewa rumahku dan tetangga lainnya semuanya lancar ga ada masalah. Sejak hari senin kemarin, 30 Juli 2012 Aku sudah dapat mengkonsumi Air bersih tanpa masalah. Aku pernah membaca dari artikel VIRO yang memberikan informasi bahwa, Menurut departemen kesehatan, syarat-syarat air minum adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, tidak mengandung mikroorganisme yang berbahaya, dan tidak mengandung logam berat. Sekarang aku tak perlu was-was lagi jika kehabisan stock air gallon di tengah malam, karena aku sudah dapat mengkonsumsi air bersih yang layak, tinggal masak air aja. Jika akan melakukan perjalanan jauh, dan tidak mau kerepotan,mudah saja, kamu jangan lupa untuk menyiapkan persediaan air VIRO. Buat yang belum tahu VIRO, ini ada penjelasanya yang Aku ambil dari situs www.viro.co.id  VIRO ialah produk air minum dalam kemasan (AMDK) yang diproduksi oleh PT Tirta Amarta Bottling Company dan PT Jimando Perkasa di Bandung-Jawa Barat. Viro lahir sejak tahun 2004, dan telah menjadi salah satu produk air minum dalam kemasan yang dipercaya karena mutu dan kemurniannya. Mau tahu lebih banyak lagi tentang VIRO, teman-teman bisa kunjungi situs ini http://viro.co.id/virowaterblog/viro-air-mineral-sehat-untuk-anda atau http://www.viro.co.id/

Ceritaku udah lumanyan panjang juga yak. Yuks baca sedikit lagi penutupnya hehe. Jadi, sama bukan kisahnya dengan pembuka ceritaku, bahwa acapkali Tuhan memberikan cara yang bagi kita adalah penderitaan dan masalah, padahal justru hal tersebut merupakan kunci untuk membuka dan menguak rahasia yang belum kita ketahui yang akan selalu menjadi Live The Moments bagi kita semua.

Teman-teman, selama ini Aku, kamu dan kita, suka mengatakan bahwa Allah adalah pemilik skenario paling sempurna. Lantas mengapa kita suka ga sabaran ya, ketika Allah memberikan skenario tersebut. Inginnya selalu berakhir happy ending, tidak mau menempuh jalan yang berliku-liku dan menegangkan. Padahal, ketika ada sebuah film atau sinetron yang jalan cerita nya datar dan gampang di tebak, kita juga suka protes bukan? Tidak suka dengan alur cerita yang terlalu standar. Hidup itu hanya sekali, jadi kelak ketika kita sudah tak berada di dunia ini lagi dunia akan mencatat kisah kita yang berhasil melakoni skenario terbaik pilihan Tuhan.

Aku mengutip kalimat keren dari situsnya http://viro.co.id/virowaterblog/ngeblog-bareng-viro/ yang punya taglinenya paling cerdas Live The Moments

“Dalam kehidupan yang kita jalani, apapun peristiwa yang kita alami dan terjadi. Apabila kita selalu gunakan kebijaksanaan untuk memaknainya maka akan banyak hal yang bisa kita dapatkan. Oleh sebab itu bukalah mata dan hati untuk selalu berfikir positif dalam setiap pembelajaran dari setiap peristiwa yang kita alami untuk memperkaya kehidupan kita”. Hidup adalah sebuah perjalanan panjang. Adakan kita memperhatikan di setiap perjalanan bahwa banyaknya hikmah dari suatu perjalanan. Hikmah tercecer dari luasnya jagad raya semesta.

Note: Tulisan ini di ikut sertakan kompetisi menulis Blog dengan tema Live the Moments, ngeBlog bareng VIRO

 
2 Comments

Posted by on July 31, 2012 in sosial

 

Tags: , ,

2 responses to “Viro, Live the Moments

  1. putri

    July 31, 2012 at 11:30 am

    ck ck ckck ck ck kak naaaaa bersyukur kak naaaa… ayo bilang alhamdulillaaaaaahhhh…. hehehe

     
  2. nanaedogawa

    July 31, 2012 at 12:41 pm

    Iyaaa Terimakasih putri udah singgah di blog k nana, Iya Alhamdulillah ya Rabb!

     
 
%d bloggers like this: