RSS

Kala Perasaan Mengalahkan Logika

09 Dec

Ada saatnya untuk jujur tentang apa yang aku rasakan, saat ini tidak ingin menyamakan dengan perasaan yang sama yang dirasakan oleh orang-orang yang lain sahabat-sahabat ku yang aku yakin betul mengalami rasa lara yang sama. Cukup jawab jujur di hati jika kamu pun merasakan gundah yang sama, kecewa yang tak tertangguhkan akan takdir yang belum mau berbaik hati. Mencoba percaya akan setiap teori, kalimat-kalimat yang dijual oleh sang motivator yang terkadang memberikan tarif yang sangat mahal hanya untuk mendengar ceramah motivator dia, ataupun mencap bahwa kalau hanya orang-orang bodoh yang jika tdak bernteprenur seperti mereka sama saja dengan DIE, iklan di baliho simpang lima, yang menurutku dan juga mantanku adalah iklan paling bodoh yang pernah ada.

Tuhan tak pernah ingkar janji! Aku percaya betul hal itu sangat percaya selalu aku ucapkan di dalam hati untukmendamaikan perasaan yang mulai tak percaya akan janji bahwa “setiap doa yang dipanjatkan hambaNya tidak pernah sis-sia”. Terus berusaha melakukan apa yag diperintahkan kita-kiat yang dilakukan agar terbebas dari hal yang paling menjemukan ini, mencoba untuk selalu bersyukur mengenang segala kebaikan Tuhan yang pernah diberikan di masa lalu, mencoba untuk menangguhkan batas kesabaran mencoba bersabar. Percaya bahwa saat ini bumi sedang berputar dan berada di belahan langit yang lain. Saat ini bintang hanya sedang tertutup awan, meskipun aku sudah tak sabar menunggu agar awan gelap itu segera hengkang.

Tuhan sedang menguji, aku percaya dan selalu terpatri di dalam hatiku mencoba berprasangka baik meskipun acapkali alam semesta seolah-seolah berkonspirasi untuk menciptakan dan menghancurkan segala asa yang sudah lelah sekali di ciptakan. sekali lagi berupaya untuk berbaik sangka bahwa semua akan baik-baik saja.

Tapi aku pun juga manusia yang punya batas kesabaran, memiliki perasaan. Bukankah dalam agama dikatakan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, meskipun kalimat itu tidak sesederhana itu pengertian dan ruang lingkupnya, ya aku tahu betul itu. lebih baik yang dimaksud di kalimat tersebut tidak hanya melulu pada bentuk materi, tidak sesempit itu. tapi bolehkan aku merasa aku sangat bingung entah apa yang harus aku lakukan, melihat masa lalu dengan sekarang. Boleh saja aku tidak terlalu suka dengan keadaan sekarang, sulit melepaskan keindahan dimasa lalu. Intinya segala keberhasilan di masa lalu yang justru berhasil aku raih di usia masih sangat mudia belasan tahun, dimulai dari usia 17 tahun untuk sebuah karir yang cemerlang, posisi yang berada setara dengan lulusan luarnegeri. Ah sungguh Tuhan sangat berbaik hati.

acapkali aku merasa tak pantas untuk keadaan seperti ini, seolah2 aku tak bersyukur untuk segala kebaikan tak terperi di masa lalu. Hanya saja cenderung perasaan mengalahkan logika. Kecewa yang tak mampu terlukiskan saat harus memulai titik itu dari 0, tertatih-tatih meraih masa depan utuk bertahan hidup, mengahadapi manusia-manusia yang tak bisa menghargai ilmu, hanya bisa memerah tenaga dan menghargai dengan uang cicilan. Aku berusaha berbaik sangka, bahwa justru di saat seperti kondisi inilah Tuhan sedang sangat berbaik hati padaku. Ladang amal yang sangat luarbiasa sebagai tabungan untuk di akhirat, bukankah mengajarkan manusia dari tidak bisa menjadi bisa membagi ilmu adalah ladang amala dan bekal yang tak akan terputus sebagai amal jariah justru hal inilah yang akan menolong disaat berada di kubur serta akhirat? ya aku tahu betul itu disaat pikiran sedang dinging aku paham betul hal itu, tapi disaat antrian lara dan putus asa datang disaat begitu banyak cara Tuhan memporakporandakan pondasi mimpi dan asa yang telah aku jalani, aku justru merasa marah terhadap keadaan seperti ini. Ada banyak pesan moral yang aku peroleh dengan aktivitasku sekarang belajar banyak ttg anak-anak, kehidupan, kasing sayang, keihklasan, belajar menjadi sosok ibu yang baik, belajar tentang art kebahagiaan yang harus di berikan kepada anak-anak ketika aku menikah kelak. ilmu dan pengetahuan yang aku peroleh sangat mahal meskipun berbanding terbalik dengan pendapatan.
Saat menatap mata tak berdosa yang sangat akrab denganku, berbagi kebahagiaan dengan mereka karena aku tahu mereka sangat jarang mendapatkannya, hal yang langka bagi mereka. Tapi kuakui aku juga bukan malaikat yang tidak perlu apa2.

Semuanya akan terasa sangat meletihkan, kala satu-persatu sahabat yang sebaya atau kakak leting, menyelesaikan gelar masternya diluarnegeri, saat membuka face book ada puluhan akun FB yang meng up load foto-foto kebahagiaan bersama pasangannya merayakan sebuah pernikahan, kala mereka berbahagia dengan putra-putrinya.
Aku??? masih tetap disini, tak beranjak sedikitpun bahkan 500 centimeter pun.
Adakalanya terbersit rasa lara, sudah saatnya ada yang memanggilku “Mama” ataupun “Bunda”.
tak bijak rasanya tak percaya pada janji-janji Tuhan, ataupun meminta Tuhan untuk mempercepat dikabulkan doa, atau mengajukan bentuk ketidak adilan, mengapa adakalanya begitu mudah kemudahan itu diberikan untuk hamba-Nya yang lain? kalau mebeda-bedakan keadilan, mengapa aku harus diciptakan? aku tak pernah ingin hadir kedunia, aku tak pernah berharap singgah di bumi ini, sama sekali tidak!!! hanya menjadi beban saja. dibumi ini tak ada keadilan,lantas kemana lagi aku harus percaya ttg keadilan itu? ya hanya kepada pemilik alam semesta ini.
Ah, aku hanya manusia ilmu itu terlalu dangkal bagiku, ada hikmah besar laiinya yang aku sendiri tak tahu, bukankah skenario Tuhan itu paling canggih. Tuhan pasti punya sebuah rencana hanya saja, waktu yang Tuhan Tangguhkan pasti tersimpan sebuah rencana besar tentunya jika aku mau bersabar & belajar untuk menguak rahasia hidup bahwa kebahagiaan itu tidak diukur dari sudut pandang manusia, ah aku terlalu cepat berputus asa. Bukankah di Novel rembulan tenggelam di wajahmu Tere-Liye sangat simple dan runut sekali penjelasannya. hanya percaya bahwa Tuhan tahu Tapi menunggu, bukankah selembar daun pun yang jatuh karena atas sepengetahuan Allah?
Ada saatnya cinta harus dilepas, tidak digenggam dengan begitu erat. bahwa ada saatnya kita tidak perlu berlari, tapi berhenti, melihat sekeliling. dan tersenyum”.

Note:
Thank so much untuk sosok “Daun” yang mampu membuatku menjadi cooling down, disaat aku tidak mampu untuk berbuat, disaat aku mulai meragukan janji-janji Tuhan. Meskipun kau tidak mungkin lagi untuk bersamaku, tapi aku berterimakasih kepada Tuhan, pernah mengirimkan sosok berhati malaikat yang sampai saat ini aku belum mendapatkan pemeran penggantimu. Tuhan selalu berbaik hati, meskipun “daun” telah perg di bawa Angin, namun kamu selalu menjadi bintang di hatiku, kau berada jauuuh terpisah beribu kilometer jaraknya tapi cahayamu terus ada disini memberi kebahagiaan disini di hatiku, selalu hadir disaat yang tepat, selalu melihatku dimanapun aku berada. Kamu pernah menjadi “daun” dihatiku tapi mulai sekarang kamu telah menjadi “Bintang” untuk selamanya.

 
Leave a comment

Posted by on December 9, 2011 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: